Semasa kecilnya, Inge dan keluarganya selalu berpindah tempat tinggal lantaran tidak bermukim di kamp konsentrasi. Dia menyebut dirinya berpindah hingga 19 kali.

"Dan generasi saya juga seringkali susah untuk tinggal di satu tempat. Selalu ada perasaan mau pergi lagi. I want to move (saya ingin pindah)," ucapnya.

"Saya berpindah-pindah sampai 19 kali dari Surabaya, Malang, Lawang," lanjutnya.

Tinggal di kamp tidaklah gratis, satu keluarga ditarif 80 Gulden. Sementara kaum wanita dilarang untuk menarik uang.

Menurut Inge, prajurit Jepang bakal menyeleksi siapa yang bisa tinggal di kamp. Silsilah bakal dilacak.

"Sebagai orang Indo, Jepang selalu pikir mereka lihat tidak your race (ras), tetapi warna kulit. Wanita sudah tidak ada uang, harus bayar 80 Gulden untuk satu kartu keluarga istilahnya," bebernya.

Dengan begitu, para wanita tinggal satu rumah hingga empat keluarga. Mereka saling membantu untuk mendapatkan uang demi menyambung hidup.

"Jadi banyak wanita yang tinggal satu rumah. Itu lebih aman," kisahnya.

"Ada empat wanita dewasa dan anaknya dan semua ongkos bisa dibagi. Yang satu bikin kue, yang satu jahit baju atau apa supaya ada sedikit uang untuk hidup," lanjutnya.

Inge dan keluarganya harus berpindah-pindah rumah dengan menjual apa saja. Baju hingga sprei pun didagangkan.

"Jadi hanya ada koper-koper dimasukkan saja. Ya sprei, barangkali sebab sprei waktu itu dianggap sebagai kalau tidak ada makanan itu ditukar di luar dengan makanan," terangnya.

Ingatan dan trauma itu begitu mengerak baik di ingatan maupun batin Inge.