"Perasaan sampai sekarang apakah rasa harus pindah, trauma, itu masih ada. Dan mungkin bagi Ibu sendiri bagaimana cara untuk anak penting rasa aman. Tetapi kalau selalu pindah rumah dalam keadaan begitu tahu bahwa mama selalu takut, tante selalu takut," tuturnya.
"Kenapa takut? Ada Jepang, kenapa Jepang? You are like (seperti) perasaan itu pindah berarti jangan sampai terbiasa di sini, tahu-tahu besok atau lusa harus pindah lagi," sambungnya.
Bahkan kebiasaan pindah menjadi 'sistem' bagi Inge. Selama 60 tahun di Eropa, dia sudah berpindah rumah selama 22 kali.
"Waktu saya pindah ke Eropa, saya tinggal di sana sudah sudah 60 tahun, tapi saya pindah rumah 22 kali. Itu adalah sistem saya," katanya.
"Dan generasi saya, tidak semua, tetapi ada juga yang 'you cannot draw a touch to the ground' (tidak bisa menetap di satu tempat). Mau, tetapi tidak bisa. Karena trauma membekas," imbuhnya.
Inge baru bertemu ayahnya pada 1946, usai Indonesia merdeka. Dia mengira ayahnya adalah serdadu Jepang. Sebab, pria dewasa yang ditemuinya selama balita merupakan orang Indonesia atau Jepang.
"Waktu itu saya umur lima tahun, tahun 1946 baru ketemu Papa. Tetapi untuk saya, Papa orang Jepang. Saya hanya kenal orang laki-laki dewasa yaitu orang Jepang atau orang Indonesia," kisah Inge.
Wanita yang juga pernah menjadi jurnalis itu mengatakan saat itu ibunya bilang bahwa pria itu merupakan ayahnya. Lantas, Inge menyapa papanya.
"Jadi Mama bilang 'ini Papamu'. Saya dan kakak bilang 'Meneer' (tuan). Mama (kembali) bilang 'ini Papamu'. Jadi kita bilang 'Papa Meneer'," ceritanya.
Inge mengatakan, seluruh suami dipisahkan dari istri selama perang. Mereka tak paham kemana perginya.
Inge hanya paham bahwa ayahnya kerja. Seiring waktu, dia mengetahui para lelaki dewasa dikirim ke berbagai penjuru negeri.
"Papa, kalau famili kakaknya dan adiknya Papa dibawa ke Burma. Mereka meninggal di sana. Papa dibawa ke Singapura, ada Pulau Damar di sebelah barat," sebutnya.