NADIKABAR.COM — Febiona menjadi satu dari sekian banyak murid SMA di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah keluar dari rumah sakit usai mendapatkan perawatan Febiona mengalami masalah gangguan ingatan.

Orang tua Febiona, Elvinus Lusiana Sitanggang (49) masalah ingatan yang dialami putrinya terjadi setelah dirawat tiga hari di rumah sakit. Sebelum itu dia menyebut putrinya sempat mengalami kejang-kejang.

"Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum masih biasa, normal. Tapi setalah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya udah kayak anak-anak," ujar Elvinus saat diwawancarai, Senin (7/9/2026).

Tidak hanya itu, kata dia, Febiona sempat tidak mengenali orang-orang terdekatnya. Termasuk anggota keluarga dan teman-teman sekelasnya.

"Contohnya ibaratnya keluarga. Bibinya kalau datang, 'Ini siapa? katanya'. Jadi kami kasih tahu, 'Ini Bibi. Oh, Bibi. Ini siapa? Suami Bibinya, Ini Kila ndu, nakku, kami bilang'. 'Oh, Kila. Ya gitu-gitu aja ingatannya gitu'," kata Elvinus.

Elvinus mengatakan, dirinya tidak mendapatkan penjelasan terkait gangguan ingatan Febiona sejak awal. Namun, ia mendapatkan penjelasan tersebut saat Febiona sudah dirawat inap.

"Cuman di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu," kata Elvinus.

Ia bercerita, Febiona merupakan siswi berprestasi di sekolahnya. Ia kerap mendapatkan ranking pertama di kelas dan menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS.

Sejak kejadian keracunan massal karena MBG dan menjalani perawatan, Febiona sangat ingin segera masuk sekolah. Namun karena kondisi yang belum memungkinkan, ia harus menunda hal tersebut.

"Selama ini belajar dia juara satu. Mulai dari kelas satu dia semester awal, dia juara satu. Terus dia wakil ketua OSIS di sekolahnya. Makanya dia selalu bilang, "Aku mau sekolah, aku mau sekolah," katanya. Ya tapi kayak mana kita ngasih dia mau sekolah?" ungkap Elvinus.

Saat ini, kata Elvinus, kondisi Febiona masih belum pulih sepenuhnya. Lidah Febiona sedikit masuk ke dalam dan menyebabkan dia kesulitan berbicara.

"Kondisinya sekarang itu tadi, lidahnya agak masuk ke dalam. Terus tadi kami datang ke poli psikiatri, dibilang kalau besok neurologi ngasih obat," ungkapnya.

Elvinus mengeluhkan kondisi putrinya yang harus bolak-balik ke rumah sakit. Ia berharap Febiona mendapatkan perawatan dan obat yang tepat sehingga tidak harus keluar-masuk rumah sakit.

"Maunya anakku ini dikasihlah pengobatan yang tepat, biar jangan anakku ini kembali lagi bolak-balik ke rumah sakit. Kami pun capek kayak gini, selalu bawa-bawa dia berobat. Itu aja. Dikasihlah, tolonglah dikasih obatnya yang tepat buat anakku ini," pungkasnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV Zulkarnain Barus mengaku sudah mendapatkan informasi terkait kondisi Febiona dari kepala sekolah. Dia bilang Febiona sudah dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

"Ya, saya baru konfirmasi kepada kepala sekolah kita. Laporan kepala sekolah kemarin dibawa ke Rumah Sakit Adam Malik Medan untuk dilakukan EEG," ujar Zulkarnain.

Zulkarnain mengaku prihatin dengan kondisi Febiona. Ia menyebut, Dinas Pendidikan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah agar Febiona bisa segera bersekolah usai kondisinya pulih.

"Tadi kita sampaikan ke sekolah agar selalu berkoordinasi dengan orang tua, apabila anak kita sudah siap untuk bersekolah kita akan bantu fasilitasi sebaik mungkin. Kita sangat prihatin dengan kondisi anak kita ini," tambahnya.

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution angkat menyebut pihaknya akan terus memantau kondisi terkini siswi tersebut. Kondisi Febiona akan dipantau secara keseluruhan.

"Itu masih kita pantau terus. Barusan juga kita minta laporan terkait hal tersebut. Ini masih dilakukan pemantauan, baik secara psikis maupun fisik," ujar Bobby. Dikatakan Bobby, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan medis terkait kondisi Febiona. Termasuk kondisi perut dan sarafnya.

"Dan juga kita rekomendasi dari psikologisnya juga, kita enggak bisa nilai traumatis seseorang itu setelah keracunan itu apakah ada trauma atau segala macam, dan ini mengganggu mental dan segala macam. Ini juga kita ikut periksa. Jadi seluruhnya bukan hanya sakit medis, tapi yang lain juga kita periksa," ungkapnya.