"Dulu Kota Medan ini sangat eksis dengan tembakaunya, akhirnya aku sediakan cerutu untuk para pengunjung yang datang ke Istana Maimun. Malaysia dan Aceh peminatnya paling tinggi," tambahnya.

Derry bukanlah anak muda sembarangan, ayahnya adalah keturunan Tengku Perdana Menteri Harun Al Rasyid, anak Sultan Deli ke-9, Ma'moen Al Rasyid dan ia merupakan generasi ke-5 dari Sultan Ma'moen.

Sembari bercerita, sesekali Derry menatap ke arah tembakau yang menggantung menghiasi toko kecilnya. Ia menceritakan nama produknya yang telah dia rintis itu.

"Saya beri nama Royal Cigar, pemberian label tersebut berawal kepentingan histori. Sebenarnya pingin punya rasa Arab dan mengembalikan kejayaan masa lampau," ucap Derry sambil tersenyum tipis.

Derry masih mengambil tembakau dari luar seperti Jawa dan Lampung. Ia mengatakan tidak hanya berfokus pada tembakau Deli tetapi ada tembakau dari beberapa tempat. Ia menyebut tembakau Deli berpokus digunakan untuk wrapping atau lapisan pembungkus bukan isi di dalam.

Ia juga mengungkapkan, sejumlah kelebihan dari tembakau Deli yang membuat para bangsawan dulu menyukainya. Menurutnya, tembakau Deli rasanya lebih spicy, strong, daunnya elastis, lebar dan warnanya kuning keemasan.

Proses yang dilalui tidaklah mudah, ia mengatakan tahapnya masih sebatas mengolah tembakau yang ia beli hingga sampai konsumen. Derry mengaku belum bisa menanam dan memanennya sendiri.

Disela - sela cerita, ia menyampaikan impian ke depan untuk belajar lebih dalam tentang tembakau. Ia ingin menggali ilmu lebih banyak tentang proses tembakau dari hulu ke hilir, bahkan tahap ekspor.

"Aku mau belajar lagi dan sekolah di Jember untuk mempelajari proses dari hulu ke hilir. Mengingat, belakangan sudah ada tawaran mau buka pabrik," terangnya.

Namun, ia memandang ketika membuka usaha sebesar pabrik dan harus ada ekspansi produksi besar-besaran serta marketnya yang sudah jelas. Derry berkeinginan mendalami lebih jauh.

Harapan tidak hanya itu, ia juga berkeinginan memiliki lahan yang cukup luas untuk menanam tembakau dengan skala besar. Kemudian membuka pabrik dan pengiriman tembakau ke luar negeri.

"Aku mau fokus di hulu, kalau target ku untuk besar pingin ekspor lagi kayak dulu ke Eropa, Jerman dan Belanda," terangnya.

Disamping itu, Derry juga menyampaikan alasan kenapa tembakau mahal karena diproses secara fermentasi. Ia menyebut tembakau layaknya seperti wine, semakin lama semakin mahal harganya.

Meskipun prosesnya lama, ia tetap menggeluti cerutu di gerai milik orang tuanya yang sepetak di bagian pojok Istana Maimun. Derry menggulung daun tembakau di tempat tersebut, hingga bisa menjadi sebuah produk dan dinikmati konsumen.