"Awalnya aku gulung disini, aku kadang masih independen bagian yang mengantar, mengkemas dan menjual ke pelanggan di luar. Sekarang aku sudah ada pengrajin tapi bukan disini, kalau di tempat ini sebagai toko kecil agar tamu - tamu yang berkunjung ke Istana Maimun singgah ke toko," tambahnya.
Derry mengaku ketika merintis usaha Royal Cigar, ia tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah Kota Medan. Namun, akhirnya berkembang pesat semakin dilirik dan diperhatikan, bahkan kerap diundang.
"Aku lagi ditahap mengurus legalitas, sempat kecewa karena pemerintah selama ini enggak pernah mendukung. Ketika sudah mulai berkembang, dia minta pajak tapi alhamdulillah sekarang udah mulai terfasilitas dan didukung pemerintah," terangnya.
Ia juga mengatakan cerutu tersebut, sebenarnya dianggap sebagai properti untuk orang-orang elit dan harganya yang mahal. Diketahui, dulunya cerutu dinikmati oleh kaum bangsawan dan para raja.
Derry sampaikan cerutu haruslah digulung dahulu, lalu dimasukkan ke dalam lemari yang suhu hangat 75 derajat. Kemudian didiamkan hingga 2 bulan, setelah itu di aging dan resting di ruangan kedap udara bisa sampai 6 bulan lamanya.
"Sebenarnya harga tembakau itu standar, yang membuatnya mahal yaitu proses dan tahapan panjang untuk bisa dinikmati. Harga cerutu bisa sampai jutaan rupiah perbatangnya atau perbungkusnya," ujarnya.
Derry menyampaikan, adanya keterkaitan Tembakau Deli dengan Kesultanan Deli. Ia menyebut, dulunya Sultan Deli itu menyewakan sampai puluhan ribu hektar lahan ke Belanda.
Saat itu, orang Belanda berhasil menembus pasar lelang di Eropa. Jadi menurut Derry keterkaitannya sangat erat, pembangunan dan kejayaan kesultanan Deli tidak terlepas dari industri perkebunan tembakau.
"Rasaku sangat besarlah sangkut pautnya tembakau Deli dengan kejayaan Istana Maimun maupun kota Medan di masa lampau. Tidak bisa dihindari, seperti gedung London Sumatera (Lonsum), bangunan administrasi perkebunan dan lainnya," ucapnya.
Dalam proses usaha yang dia jalani, penghasilan dari bisnis ini tidak menentu tetapi sudah mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi beberapa orang. Derry telah memperkerjakan sebanyak 2 pengerajin untuk mengembangkan usaha cerutu itu.
"Ketika musim tamu di Istana Maimun, maka cerutu bisa 5-7 kotak perhari terjual atau lebih. Untuk harganya mulai dari Rp 30.000 sampai jutaan rupiah, diperkirakan penghasilan perbulan secara kotor bisa mencapai Rp 20 juta," ujar Derry.
Ia menegaskan kembali, cerutu bukan seperti rokok yang setiap hari dikonsumsi. Gulungan daun tembakau itu, dulu kerap disiapkan dalam momen perayaan di Istana Deli atau di pertemuan penting dengan orang - orang besar.
"Dulunya, para pejabat nyigar karena punya filosofi ketika yang kecil di tangan yang dibahas curhat dan gibah. Sebaliknya, ketika yang besar di tangan maka dibahas tentang negara. Cerutu dianggap properti untuk para pimpinan dan bos serta simbol kekuasaan," pungkas Derry.