NADIKABAR.COM — Aroma tembakau Deli yang khas mengantarkan langkah seorang pemuda melayu menelusuri sejarah yang tumbuh di Sumatera. Ketertarikan terhadap perkebunan tidak berhenti di situ, berawal dari rasa ingin tau dan lahir keberanian menjadikannya peluang usaha.
Tembakau Deli yang dikenal dari Sumatera Utara bagian Timur itu, telah menyeberangi Selat Malaka. Derry membawanya ke pasar Malaysia, sekaligus memperkenalkan kembali tembakau Deli dalam kemasan bisnis cerutu yang lebih moderen.
Cerutu atau cigar adalah gulungan utuh daun tembakau yang telah dikeringkan dan difermentasikan. Sekilas bentuknya mirip rokok, salah satu ujungnya dibakar dan asapnya diisap oleh mulut melalui ujung yang lain.
Bagi OK Derry Ananda (26), cerutu bukan sekedar produk untuk dihisap melainkan sejarah yang bernilai. Ia juga memandang cerutu merupakan identitas Melayu Deli yang pernah dikenal di kancah dunia.
"Dulu aku senang sejarah dan budaya, sering tertarik dengan histori tembakau Deli. Bahkan sejak kecil aku sudah bertanya kepada papa dan atok ku," ucap Derry kepada NadiKabar memulai obrolan ketika ditemui di toko cerutu miliknya di komplek Istana Maimun, Kota Medan, Selasa (8/9/2026).
Tidak berhenti di situ, saat Derry menempuh pendidikan agama di Magetan, secara kebetulan ia juga mempelajari tentang cerutu di Jember. Sejak saat itu, niat semakin tumbuh dalam dirinya dan giat mempelajari tentang tembakau.
"Aku tahu tentang cerutu ini, sudah dari tahun 2018 saat itu masih sekolah agama di Magetan. Aku juga sering main ke Jember," ungkapnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan agama, pada tahun 2020 Derry bertekad ke Jember untuk belajar di kota tembakau itu. Kemudian pada tahun 2022, ia memutuskan memulai bisnis cerutu di Kota Medan.
"Pada tahun 2020 aku ke Jember untuk belajar di kota tembakau. Akhirnya, tahun 2022 aku mendapatkan informasi, network, link, segala macam sehingga kuputuskan jualan cerutu untuk kepentingan souvenir," terangnya.
Derry mengaku awalnya, tidak langsung berpikir untuk membuka bisnis. Kala itu, ia resah lantaran simbol kebanggaan Kota Medan hanya berupa makanan, jadi ia berpikir bagaimana produk tembakau Deli bisa menjadi produk histori yang akan selalu diingat para pengunjung ke Medan.
"Niatku sebenarnya bergerak di cerutu bukan sebagai pebisnis, kalau di Medan pengunjung sering membawa oleh-oleh berupa kue. Nah aku pengen hal yang baru, aku berpikir bisa nggak ya cerutu jadi produk budaya atau histori," imbuhnya.
Atas keresahan itu, akhirnya ia sampai membuka toko cerutu minimalis dengan gaya generasi z. Tokonya kecil tetapi tergolong unik, terlihat terpajang foto- foto zaman dulu Belanda saat berada di perkebunan tembakau Deli.
Tidak hanya itu, di ruang kecil tersebut ada tersedia tempat penggulung tembakau, ada cermin klasik terpajang dengan indah. Bahkan daun - daun tembakau terlihat menggelantung menghiasi tokonya dan terpajang produk cerutu dengan elegan.
Meskipun usahanya masih kecil, peminat cerutu tersebut cukup banyak apalagi pengunjung yang datang ke Istana Maimun. Derry mengatakan cerutu miliknya kerap dibeli pengunjung dari Malaysia dan Aceh.
"Dulu Kota Medan ini sangat eksis dengan tembakaunya, akhirnya aku sediakan cerutu untuk para pengunjung yang datang ke Istana Maimun. Malaysia dan Aceh peminatnya paling tinggi," tambahnya.
Derry bukanlah anak muda sembarangan, ayahnya adalah keturunan Tengku Perdana Menteri Harun Al Rasyid, anak Sultan Deli ke-9, Ma'moen Al Rasyid dan ia merupakan generasi ke-5 dari Sultan Ma'moen.
Sembari bercerita, sesekali Derry menatap ke arah tembakau yang menggantung menghiasi toko kecilnya. Ia menceritakan nama produknya yang telah dia rintis itu.
"Saya beri nama Royal Cigar, pemberian label tersebut berawal kepentingan histori. Sebenarnya pingin punya rasa Arab dan mengembalikan kejayaan masa lampau," ucap Derry sambil tersenyum tipis.
Derry masih mengambil tembakau dari luar seperti Jawa dan Lampung. Ia mengatakan tidak hanya berfokus pada tembakau Deli tetapi ada tembakau dari beberapa tempat. Ia menyebut tembakau Deli berpokus digunakan untuk wrapping atau lapisan pembungkus bukan isi di dalam.
Ia juga mengungkapkan, sejumlah kelebihan dari tembakau Deli yang membuat para bangsawan dulu menyukainya. Menurutnya, tembakau Deli rasanya lebih spicy, strong, daunnya elastis, lebar dan warnanya kuning keemasan.
Proses yang dilalui tidaklah mudah, ia mengatakan tahapnya masih sebatas mengolah tembakau yang ia beli hingga sampai konsumen. Derry mengaku belum bisa menanam dan memanennya sendiri.
Disela - sela cerita, ia menyampaikan impian ke depan untuk belajar lebih dalam tentang tembakau. Ia ingin menggali ilmu lebih banyak tentang proses tembakau dari hulu ke hilir, bahkan tahap ekspor.
"Aku mau belajar lagi dan sekolah di Jember untuk mempelajari proses dari hulu ke hilir. Mengingat, belakangan sudah ada tawaran mau buka pabrik," terangnya.
Namun, ia memandang ketika membuka usaha sebesar pabrik dan harus ada ekspansi produksi besar-besaran serta marketnya yang sudah jelas. Derry berkeinginan mendalami lebih jauh.
Harapan tidak hanya itu, ia juga berkeinginan memiliki lahan yang cukup luas untuk menanam tembakau dengan skala besar. Kemudian membuka pabrik dan pengiriman tembakau ke luar negeri.
"Aku mau fokus di hulu, kalau target ku untuk besar pingin ekspor lagi kayak dulu ke Eropa, Jerman dan Belanda," terangnya.
Disamping itu, Derry juga menyampaikan alasan kenapa tembakau mahal karena diproses secara fermentasi. Ia menyebut tembakau layaknya seperti wine, semakin lama semakin mahal harganya.
Meskipun prosesnya lama, ia tetap menggeluti cerutu di gerai milik orang tuanya yang sepetak di bagian pojok Istana Maimun. Derry menggulung daun tembakau di tempat tersebut, hingga bisa menjadi sebuah produk dan dinikmati konsumen.
"Awalnya aku gulung disini, aku kadang masih independen bagian yang mengantar, mengkemas dan menjual ke pelanggan di luar. Sekarang aku sudah ada pengrajin tapi bukan disini, kalau di tempat ini sebagai toko kecil agar tamu - tamu yang berkunjung ke Istana Maimun singgah ke toko," tambahnya.
Derry mengaku ketika merintis usaha Royal Cigar, ia tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah Kota Medan. Namun, akhirnya berkembang pesat semakin dilirik dan diperhatikan, bahkan kerap diundang.
"Aku lagi ditahap mengurus legalitas, sempat kecewa karena pemerintah selama ini enggak pernah mendukung. Ketika sudah mulai berkembang, dia minta pajak tapi alhamdulillah sekarang udah mulai terfasilitas dan didukung pemerintah," terangnya.
Ia juga mengatakan cerutu tersebut, sebenarnya dianggap sebagai properti untuk orang-orang elit dan harganya yang mahal. Diketahui, dulunya cerutu dinikmati oleh kaum bangsawan dan para raja.
Derry sampaikan cerutu haruslah digulung dahulu, lalu dimasukkan ke dalam lemari yang suhu hangat 75 derajat. Kemudian didiamkan hingga 2 bulan, setelah itu di aging dan resting di ruangan kedap udara bisa sampai 6 bulan lamanya.
"Sebenarnya harga tembakau itu standar, yang membuatnya mahal yaitu proses dan tahapan panjang untuk bisa dinikmati. Harga cerutu bisa sampai jutaan rupiah perbatangnya atau perbungkusnya," ujarnya.
Derry menyampaikan, adanya keterkaitan Tembakau Deli dengan Kesultanan Deli. Ia menyebut, dulunya Sultan Deli itu menyewakan sampai puluhan ribu hektar lahan ke Belanda.
Saat itu, orang Belanda berhasil menembus pasar lelang di Eropa. Jadi menurut Derry keterkaitannya sangat erat, pembangunan dan kejayaan kesultanan Deli tidak terlepas dari industri perkebunan tembakau.
"Rasaku sangat besarlah sangkut pautnya tembakau Deli dengan kejayaan Istana Maimun maupun kota Medan di masa lampau. Tidak bisa dihindari, seperti gedung London Sumatera (Lonsum), bangunan administrasi perkebunan dan lainnya," ucapnya.
Dalam proses usaha yang dia jalani, penghasilan dari bisnis ini tidak menentu tetapi sudah mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi beberapa orang. Derry telah memperkerjakan sebanyak 2 pengerajin untuk mengembangkan usaha cerutu itu.
"Ketika musim tamu di Istana Maimun, maka cerutu bisa 5-7 kotak perhari terjual atau lebih. Untuk harganya mulai dari Rp 30.000 sampai jutaan rupiah, diperkirakan penghasilan perbulan secara kotor bisa mencapai Rp 20 juta," ujar Derry.
Ia menegaskan kembali, cerutu bukan seperti rokok yang setiap hari dikonsumsi. Gulungan daun tembakau itu, dulu kerap disiapkan dalam momen perayaan di Istana Deli atau di pertemuan penting dengan orang - orang besar.
"Dulunya, para pejabat nyigar karena punya filosofi ketika yang kecil di tangan yang dibahas curhat dan gibah. Sebaliknya, ketika yang besar di tangan maka dibahas tentang negara. Cerutu dianggap properti untuk para pimpinan dan bos serta simbol kekuasaan," pungkas Derry.