"Kalau latihan terus tidak ada pertandingan, jenuh juga. Pertandingan itu diperlukan buat pelatih dan atlet evaluasi hasil latihan," ujarnya.
"Kalau latihan saja, kita kadang cuma mengandalkan motivasi dari diri sendiri. Tapi kalau ada pertandingan, kita tahu salahnya di mana dan apa yang harus dievaluasi."
Kembali ke saptalomba di Asian Games juga menjadi bagian dari upaya Emilia memaksimalkan karirnya. Pada usia 30 tahun, ia masih ingin bersaing dan belum berpikir untuk mengakhiri karir sebagai atlet.
"Selama badan ini masih kuat, hajar terus. Kalau sudah tidak kuat, barulah gantung sepatu," kata atlet kelahiran tahun 1995 tersebut.
Bagi Emilia, usia bukan alasan untuk berhenti. Setelah melewati operasi dan cedera lutut, ia justru mampu kembali mencatatkan prestasi dan memecahkan rekor nasional.
Ia berharap perjalanan tersebut dapat menjadi motivasi bagi atlet lain untuk tidak terburu-buru menyerah hanya karena faktor usia.
"Alhamdulillah, di umur 30 saya malah pecah rekor dan dapat medali terbanyak di atletik. Saya ingin menginspirasi orang-orang yang sudah pasrah sama umur," ujar Emilia.
Di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Emilia menuntaskan rangkaian nomor saptalomba dengan finis di urutan ketujuh dengan mengumpulkan total 5.279 poin setelah menjalani tujuh nomor pertandingan.