Peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Collin Koh, mengatakan kepada DW bahwa China masih dapat memperluas kehadirannya secara bertahap di fasilitas tersebut.
Menurut Koh, Beijing dapat menambah jumlah personel, terutama penasihat dan instruktur, serta mengerahkan pesawat latih sebelum pada akhirnya membawa pesawat yang lebih canggih. Fasilitas tersebut juga dapat digunakan untuk menyimpan peralatan dan persediaan.
Namun, "kegunaan operasional bagi proyeksi kekuatan militer PLA di Asia Tenggara dibatasi oleh sifat Laos yang terkurung daratan."
Berbeda dengan Ream, Ban Keun tidak memiliki akses ke laut. Pada saat yang sama, pesawat militer China sudah beroperasi dari pangkalan-pangkalan yang jauh lebih besar dan lebih lengkap di wilayah selatan China.
Koh mengatakan Vietnam kemungkinan akan tetap memantau Ban Keun secara cermat, terutama terkait potensi perannya jika terjadi konflik di Laut China Selatan. Namun, posisi geografis fasilitas tersebut tidak memberikan keunggulan operasional yang signifikan bagi militer China.
Simon Creak, profesor madya di Institut Pendidikan Nasional Singapura sekaligus sejarawan Laos, mencatat bahwa Vientiane mempertahankan kebijakan non-blok sejak mengadopsi kebijakan luar negerinya saat ini pada 1986.
"Laos belum pernah memiliki fasilitas bersama serupa di masa lalu, meskipun menjalin hubungan politik dan militer yang erat dengan Vietnam, serta China dan Rusia … dan setiap pembicaraan mengenai pangkalan asing di Laos biasanya mengingatkan pada pangkalan-pangkalan CIA selama Perang Indochina," kata Creak.
Meski demikian, ia menilai "sangat tidak mungkin" Laos akan mengubah arah kebijakan luar negeri resminya maupun meninggalkan upaya yang selama ini dijalankan untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan Vietnam, Thailand, dan China.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Lihat juga Video: Momen China Usir Pesawat Filipina dari Langit Scarborough Shoal