NADIKABAR.COM — Pemerintah China menanggapi rencana Inggris menaikkan tarif terhadap impor kendaraan listrik asal China, maupun usulan dari Jerman dan Prancis kepada Uni Eropa untuk membuat kewenangan baru di bidang perdagangan.

"Perlu saya tekankan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan pada dasarnya adalah tentang memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing pihak demi mencapai keuntungan bersama," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun dalam keterangan tertulis di laman kementerian dikutip pada Rabu.

Inggris sedang mempertimbangkan untuk mengenakan tarif lebih tinggi terhadap impor mobil asal China demi menyesuaikan kebijakan Uni Eropa (EU) dan memperkuat posisinya agar dapat disertakan dalam rancangan regulasi baru guna melindungi sektor manufaktur Eropa, termasuk otomotif dan bahan kimia.

EU telah membahas masalah tarif ini dengan Inggris sebagai bagian dari pembahasan mengenai rancangan regulasi Buatan Eropa (Made in Europe), yang dikenal sebagai Undang-Undang Akselerator Industri (Industrial Accelerator Act).

Saat ini, Inggris hanya mengenakan bea masuk standar sebesar 10 persen untuk mobil listrik China. Sebaliknya, sejak tahun 2024, EU telah menerapkan bea masuk tambahan hingga 45 persen, sementara AS menerapkan tarif sebesar 100 persen.

"Industri kendaraan listrik (EV) China menawarkan pilihan yang kompetitif bagi konsumen global, termasuk di Inggris, serta berkontribusi pada transisi hijau dan rendah karbon, sekaligus mewakili kapasitas produksi berkualitas tinggi yang memiliki permintaan pasar yang besar," tambah Giuo Jiakun.