Pihaknya menemukan bahwa mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti situs kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.
Yang menjadi perhatian, kata dia, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.
"Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit," kata Ray, yang juga dosen di Program Magister Kedokteran Kerja, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.