NADIKABAR.COM — Health Collaborative Center (HCC) menekankan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi pemerintah menjadi bantalan perlindungan kesehatan utama bagi masyarakat yang tengah melakukan penyesuaian anggaran di tengah fenomena penurunan gaya hidup.
Praktisi Kesehatan Masyarakat dari HCC dr. Ray Wagiu Basrowi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa sebagaimana namanya, program CKG hadir sebagai solusi strategis agar masyarakat tetap mendapat jaminan deteksi dini penyakit tanpa perlu menambah beban biaya rumah tangga.
"Kalau biaya menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan, manfaatkan CKG. Sudah gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Datanglah sebelum sakit, bukan setelah penyakit menimbulkan komplikasi," kata dia.
Ray menekankan bahwa keberadaan layanan CKG menjadi pintu masuk yang sangat krusial untuk menjaring berbagai faktor risiko penyakit tidak menular yang kerap berkembang tanpa gejala klinis.
Penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, anemia, serta gangguan fungsi organ sering kali tidak disadari oleh warga yang merasa kondisinya tetap bugar dan beraktivitas normal harian.
Melalui pemanfaatan fasilitas pemeriksaan gratis tersebut menurut dia, masyarakat dapat mengetahui profil risiko kesehatannya sejak dini tanpa harus mengorbankan alokasi kebutuhan pokok lainnya.
Program ini selaras dengan hasil studi terbaru dari HCC yang menunjukkan hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Penelitian itu dilakukan pada Maret-Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Pihaknya menemukan bahwa mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti situs kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.
Yang menjadi perhatian, kata dia, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.
"Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit," kata Ray, yang juga dosen di Program Magister Kedokteran Kerja, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.