NADIKABAR.COM — Metodologi pendataan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam bentuk desil saat ini dinilai rawan menghasilkan keputusan yang keliru. Sebab data yang digunakan masih berdasarkan estimasi pengeluaran.

Peneliti sekaligus Director of Fiscal Justice CELIOS, Media Askar, menilai metodologi penetapan desil yang saat ini masih mengandalkan estimasi pengeluaran sangat rentan bermasalah atas keakuratan data tingkat kesejahteraan warga.

Padahal data ini kerap digunakan dalam penetapan desil yang akhirnya ikut menentukan tingkat kelayakan warga menerima bantuan sosial (bansos).

Sebab pada akhirnya indikator pengeluaran seringkali menipu karena banyak keluarga tampak mampu, namun pengeluaran esensial mereka seperti pendidikan dan kesehatan sebenarnya bersumber dari utang pinjaman online (pinjol) hingga menjual aset seperti sawah.

Untuk itu menurutnya penetapan sasaran bansos seharusnya didasarkan pada disposable income atau pendapatan bersih yang tersisa setelah dikurangi beban pengeluaran mendesak dan utang, bukan sekadar melihat pola pengeluaran atau penampilan luar.