NADIKABAR.COM — Pembangunan jalan di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel), kerap menuai kritik dari sejumlah pihak. Sorotan utama tertuju pada pembangunan infrastruktur di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yakni Rongkong, Seko, dan Rampi.
Sejumlah pihak menilai pembangunan di wilayah tersebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan murni dari anggaran pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta kontribusi pihak ketiga melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Alih-alih bersikap antikritik, Bupati Lutra, Andi Abdullah Rahim, justru menyampaikan terima kasih atas kritikan tersebut.
Andi Rahim tidak membantah tudingan itu, tetapi menjadikan kritik tersebut sebagai momentum untuk membuka mata publik mengenai strategi besar yang dijalankannya, yaitu kecerdasan memimpin serta strategi mendatangkan anggaran non-APBD demi kemaslahatan masyarakat Lutra.
"Kemarin sempat ada yang mengkritik soal itu, dan saya jelaskan itu namanya metode creative financing, bagaimana kita mencari anggaran besar dari provinsi, pusat dan CSR untuk program kita, karena kalau kita andalkan APBD saja, daerah kita akan begini-begini saja," ucap Andi Rahim dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Andi Rahim mengatakan pemerintah daerah tengah menerapkan pola anggaran yang disebut sebagai Creative Financing, yaitu sebuah seni mendatangkan anggaran pembangunan dari pusat ke daerah.
Menurut Andi Rahim, pola ini perlu diketahui agar masyarakat Luwu Utara makin memahami arah dan kebijakan pembangunan di Bumi La Maranginang.