Chief of Fellow CTSS IPB University Prof Damayanti Buchori menyoroti bahwa penelitian gambut sudah banyak, tetapi penerapannya masih kurang.

"PCC itu memang diharapkan untuk bisa menjadi implementor dari riset-riset yang sudah ada, tapi juga menjadi katalisator untuk mempercepat proses-proses restorasi, regeneratif, dan sebagainya," ujarnya.

Menurutnya, pendekatan transdisiplin menjadi kunci karena persoalan gambut sangat kompleks. Ia juga menyebut pentingnya pendanaan alternatif, model bisnis yang jelas bagi industri, dan dekolonisasi pengetahuan dengan mengintegrasikan pengetahuan lokal.

Sejumlah narasumber menekankan bahwa tata kelola air menjadi dasar. Ketua CIMTROP Universitas Palangka Raya Profesor Adi Jaya mengatakan meski karakteristik gambut beragam antarlokasi, tetapi tata kelola hidrologi berlaku lintas wilayah.

Setiap upaya untuk mengembangkan model ekonomi sirkular di lahan gambut perlu dimulai dengan desain tata kelola air yang spesifik terhadap karakteristik ekosistem dan kondisi setempat.

"Dengan hidrologi sebagai fondasi, berbagai pilihan pemanfaatan ekonomi dapat dikembangkan tanpa mengabaikan fungsi ekologis gambut,” tuturnya.