NADIKABAR.COM — Ketika pemerintah menetapkan tarif cukai rokok, dampaknya tidak berhenti pada angka penerimaan negara semata.

Ada pekerja pabrik yang menggantungkan penghasilan, di sisi lain ada petani tembakau yang menunggu hasil panen, bahkan ada pedagang kecil yang menjaga keberlangsungan usaha, serta keluarga yang berharap dapurnya tetap mengepul.

Inilah alasan kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) perlu dipandang secara menyeluruh. Cukai bukan sekadar instrumen fiskal untuk mengisi kas negara, melainkan juga alat pengendalian konsumsi yang memiliki konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat, kesempatan kerja, dan keberlangsungan kegiatan ekonomi.

Indonesia menghadapi tantangan untuk menemukan keseimbangan antara berbagai kepentingan tersebut.

Negara membutuhkan penerimaan untuk membiayai pembangunan, masyarakat membutuhkan perlindungan kesehatan, sementara pekerja memerlukan kepastian penghidupan.

Persoalannya, kenaikan tarif cukai tidak selalu menghasilkan tambahan penerimaan sebagaimana diharapkan.

Ketika harga rokok meningkat, sebagian konsumen mungkin mengurangi konsumsi atau berhenti merokok. Namun, sebagian lainnya justru berpindah ke produk yang lebih murah, bahkan berisiko memilih rokok ilegal.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa perilaku konsumen tidak selalu bergerak mengikuti asumsi kebijakan. Ada faktor daya beli, kebiasaan, akses terhadap produk, dan kondisi ekonomi rumah tangga yang memengaruhi keputusan pembelian.

Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto mengingatkan pentingnya kepastian kebijakan bagi industri hasil tembakau.

Moratorium kenaikan tarif CHT dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan produksi, sekaligus menjaga penyerapan tenaga kerja.

Pandangan tersebut berangkat dari karakter industri hasil tembakau yang melibatkan banyak pekerja, khususnya pada kegiatan produksi yang masih mengandalkan keterampilan manusia.

Ketika biaya produksi meningkat dan permintaan melemah, perusahaan menghadapi pilihan sulit. Efisiensi mungkin diperlukan untuk mempertahankan usaha, tetapi pengurangan tenaga kerja dapat membawa konsekuensi sosial yang tidak kecil.