"Nggak mau (MBG lagi), trauma. Bawa bontot (bekal) saja dari rumah kalau lapar," tegasnya.

Keluarga Krismas mengaku sangat terkejut saat pertama kali mendengar kabar insiden keracunan massa di sekolah tersebut. Sang kakak, Winda Apriati (22), menceritakan bahwa keluarga harus menyisir sejumlah rumah sakit di Karo untuk menemukan keberadaan adiknya.

"Aku lagi bersih-bersih rumah terus Krismas bilang 'kak, kami keracunan MBG'. Berpencarlah sama bapak dan adik nyari si Krismas ke rumah sakit, kan ada 4 rumah sakit ya, ketemunya di RS Efarina," kata Winda.

Winda mengungkapkan bahwa saat awal ditemukan di rumah sakit daerah, adiknya masih terlihat segar dan bisa berkomunikasi. Namun, kondisi Krismas perlahan memburuk karena tubuhnya selalu menolak makanan.

"Setiap makan dia muntah, nggak nerima dia," tambah Winda.