Menurut Mamenun, El Nino yang masih berada pada level sangat kuat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Fenomena ini diprediksi bertahan hingga awal 2027 sehingga berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah.

"El Nino masih pada level sangat kuat dan diprediksi masih bertahan hingga awal tahun 2027. Ini mundurnya terhadap klimatologisnya," ujarnya.

Dampak musim kemarau juga terlihat dari tingginya suhu udara di DIY. Berdasarkan catatan Stasiun Klimatologi DIY, suhu maksimum mencapai 35,2 derajat Celsius pada 3 Oktober 2026. Angka tersebut menjadi suhu maksimum tertinggi yang tercatat sepanjang 2026 hingga saat ini.

"Oktober ini potensinya masih tinggi suhu panasnya," ujar Mamenun.

Ia menjelaskan, tingginya suhu udara dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk posisi gerak semu matahari yang berada di selatan ekuator dan melintasi Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat DIY menerima radiasi matahari secara maksimal.

Minimnya tutupan awan juga menyebabkan sinar matahari lebih intensif mencapai permukaan bumi. Situasi ini diperkuat oleh musim kemarau yang masih berlangsung serta pengaruh El Nino yang dapat mengurangi peluang terjadinya hujan.