Selain itu, kelembapan udara turut memengaruhi sensasi panas yang dirasakan masyarakat. Dalam infografis yang dirilis Stasiun Klimatologi DIY, kelembapan rendah disebut dapat membuat udara terasa lebih kering.
Meski demikian, suhu maksimum tahun ini belum melampaui rekor historis yang tercatat selama periode 2015-2025. BMKG mencatat suhu tertinggi dalam rentang tersebut mencapai 36,8 derajat Celsius pada 12 Oktober 2024.
Di tengah panjangnya periode kering dan tingginya suhu udara, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem. Pada periode 13-19 Oktober 2026, hujan lebat, angin kencang, dan petir berpeluang terjadi secara lokal.
BMKG juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas langsung di bawah terik matahari, terutama pada siang hari. Warga disarankan mencukupi kebutuhan air putih serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, dan tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diminta mengenali tanda-tanda dehidrasi dan kelelahan akibat panas. Jika tubuh terasa lemas, pusing, atau mengalami keluhan setelah terpapar suhu tinggi, warga sebaiknya segera beristirahat di tempat yang lebih sejuk.
"Pantau informasi cuaca terkini dari BMKG. Mengenali suhu dan memahami iklim melalui data riwayat/historis suhu maksimum menjadi informasi penting untuk memahami karakteristik suhu wilayah D.I Yogyakarta dan mendukung kewaspadaan terhadap kondisi suhu panas," pungkas Mamenun.