NADIKABAR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga daging ayam ras di Bali menjadi penyumbang terbesar inflasi Bali pada Agustus 2026, yaitu sebesar 8,34 persen dengan andil 0,21 persen. Kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh kebutuhan aktivitas adat yang meningkat seperti pernikahan dan ngaben.

"Kenaikan permintaan daging ayam ras karena adanya aktivitas adat pernikahan, ngaben, dan sebagainya," ungkap Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, saat konferensi pers di Denpasar, Selasa (1/9/2026).

Di sisi lain, pasokan ayam siap panen juga mengalami penurunan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan tidak maksimalnya pemasukan day old chicken (DOC) atau anak ayam umur sehari pada bulan sebelumnya, Juli 2026.

"Kami dapat informasi dari sejumlah media bahwa populasi ayam siap panen itu turun karena tidak maksimalnya DOC pada bulan Juli," ujar Agus.

Agus menegaskan peningkatan permintaan akan selalu mempengaruhi harga. Menurutnya, kenaikan harga dapat terjadi ketika peningkatan permintaan tidak diimbangi dengan pasokan yang mencukupi dari produsen.

Pada Agustus 2026, Bali mengalami inflasi secara bulanan sebesar 0,61 persen. BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi dengan kenaikan sebesar 1,14 persen dan andil 0,35 persen.

Selain daging ayam ras, sejumlah komoditas lain juga memberikan andil terhadap inflasi Agustus 2026. Di antaranya angkutan udara dengan kenaikan 10,09 persen dan andil 0,03 persen, disusul buncis yang mengalami inflasi 35,85 persen dengan andil 0,03 persen.