Sebelum pementasan dimulai, Sigit memperkenalkan Ramayana kepada penonton dengan cara yang tak biasa. Dia membandingkan kisah tersebut dengan cerita cinta yang lebih akrab bagi warga Eropa.
"Aku maju dan perkenalkan kepada penonton, bahwa lakon wayang kulit ini Ramayana. Mirip dengan kisah di Eropa, Romeo dan Juliet, tetapi happy ending. Seketika orang-orang mulai tertawa," kata dia.
Tak hanya itu, dia juga menjelaskan bahwa pertunjukan wayang di Indonesia biasanya berlangsung semalam suntuk, dari pukul 18.00 hingga 06.00. Namun untuk acara di Bern, dia hanya pentas secara singkat.
"Tetapi di sini aku akan mendalang selama 30 menit saja. Hadirin tertawa lagi, mungkin merasa lega, tak harus perlu waktu lama untuk menontonnya," kata dia.
Sepanjang pertunjukan, kisah Ramayana dimainkan sepenuhnya dalam bahasa Jerman. Tokoh Hanoman menjadi salah satu yang paling menarik perhatian penonton. Sigit bahkan menirukan suara kera secara langsung untuk menghidupkan suasana.
"Sosok kera putih Hanoman, suara monyet aku tirukan dengan berteriak-teriak liar. Munculnya perangai Hanoman yang liar disertai suara aneh mirip kera, menjadikan suasana semakin mencekam," ujar Sigit yang juga merupakan penulis dan penerjemah karya-karya penulis berbahasa Jerman Franz Kafka.