Strategi itu terbukti berhasil. Banyak warga Swiss yang semula hanya melintas kemudian berhenti untuk menyaksikan pertunjukan hingga selesai. Bahkan setelah pementasan berakhir, sejumlah penonton menghampirinya untuk bertanya tentang wayang kulit dan keris yang dikenakannya.
"Ada dua orang Swiss yang mengaku belum pernah menonton wayang kulit dan baru kali ini dan paham ceritanya, karena menggunakan bahasa Jerman. Seorang ingin menonton wayang kulit, kalau ia berlibur ke Indonesia," kata Sigit.
"Aku sarankan pergi ke Yogyakarta ada pertunjukan wayang kulit setiap malam yang berada di tepi jalan tim redaksi kraton dan jalan Malioboro," dia menambahkan.
Sigit juga mengisahkan ada seorang penonton perempuan bernama Celine, mengaku memiliki ayah dari Solo, tetapi lahir di Jerman. Celine menunjuk keris dipakainya di pinggang.
"Saat itu Celine bertanya apa fungsi keris itu? Sebetulnya itu bukan pertanyaannya sendiri, tetapi membantu anak kecil di sebelahnya yang ingin tahu tentang keris. Aku jawab, dalam adat Jawa memang keris sering dipakai, tak hanya pada dalang, tetapi juga pada pengantin laki-laki," dia menambahkan.