"Kalau untuk titik-titik kayak di Solo kota Sukoharjo, Karanganyar, atau Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga ini bukanlah titik persebaran. Maka ini saya mensinyalir bahwa mungkin adalah ular yang terlepas. Karena itu kan sudah besar banget, ya sudah besar, di permukiman warga pula," ucap Janu.
Dugaan Janu itu diperkuat oleh karakteristik ular king cobra yang teritorial. Sehingga, aneh bila ada ular tersebut di wilayah permukiman yang bukan area persebarannya.
"King cobra kan sebenarnya ular yang cerdas dibandingkan ular lain. Dia itu juga teritorial bahkan dia membuat sarang. Kalau dia bertelur dia akan membuat sarang dan dia akan menjaga telurnya. Makanya kan aneh kalau ular ini ada di kota. Maka kemungkinannya adalah lepasan," tutur Janu.
Janu juga menjelaskan bahwa bisa atau dosis racun king cobra sangat berbahaya bagi manusia. Ular agresif ini dapat bereaksi fatal di tubuh dalam waktu yang cepat.
"Jadi ini ular sebenarnya LD50nya (lethal dose 50 atau dosis racun) masih di bawah dari Weling. Namun untuk ular king kobra menjadi sangat berbahaya karena dia agresif, beda dengan welang, weling, kalau kobra menghindari manusia. Kalau king cobra ini agresif," kata Janu.
"Dia menjadikan bahaya karena volume yang disuntikkan selalunya banyak, ukurannya gede kan, jadi besar volume yang disuntikkan banyak. Dia memiliki kecepatan reaksi untuk tubuh kita menjadi sistemik, menjadi fatal itu sangat cepat," tambahnya.
Menurut Janu, jangka waktu efek bisa king cobra yang dirasakan masing-masing orang bisa berbeda. Biasanya gejala yang dirasakan adalah gagal napas.
"Kalau kita ngomong menit tidak bisa, karena setiap orang berbeda-beda. Kemudian venomnya adalah mayoritas dia neurotoksin. Yang dirasakan adalah gagal napas karena neurotoksin merusak batang saraf," urai Janu.
"Antivenomnya di Indonesia itu masih sangat minim, ada tapi bukan buatan Indonesia, dari Thailand antibisanya," imbuhnya.
Bilamana ada orang yang tergigit king cobra, Janu mengimbau untuk tetap tenang dan menghentikan pergerakan pada area yang tergigit (imobilisasi). Setelahnya, harus dibawa ke rumah sakit untuk diberi antibisa.
"Harusnya tenang, diistirahatkan, kemudian imobilisasi itu sangat membantu dan memberikan peluang selamat lebih besar. Kemudian dibawa ke rumah sakit, diberikan antibisa yang sesuai bilamana masuk fase sistemik," ujar Janu.
Lihat juga Video 'Ular Kobra Diduga Stres Ditemukan Telan Pisau di Karanganyar':