NADIKABAR.COM β€” Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia mengkaji dua opsi investasi industri tekstil, yakni mengakuisisi perusahaan yang sudah ada atau membangun pabrik baru untuk memperluas lapangan kerja.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menjelaskan rencana tersebut seusai memberikan paparan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.

"Pilihannya kan pada dasarnya membangun perusahaan itu ada yang kita akuisisi, ada yang kita bangun dari nol, ya," kata Dony.

Ia menjelaskan opsi akuisisi dapat dilakukan terhadap perusahaan yang sudah ada, termasuk perusahaan yang menghadapi kesulitan usaha dan berpotensi mengurangi jumlah pekerja apabila menghentikan kegiatan produksinya.

Menurut dia, pengambilalihan perusahaan juga perlu disertai pembenahan model bisnis agar kegiatan operasional menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

Sementara itu, pembangunan pabrik baru menjadi alternatif lain yang masih dikaji untuk memperkuat kapasitas produksi industri tekstil nasional.

Terkait kemungkinan pengambilalihan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Dony belum memastikan perusahaan tersebut akan diakuisisi karena proses evaluasi masih berlangsung.

"Ya, kita sedang melakukan evaluasi. Ya mudah-mudahan nanti akan. Teman-teman akan lihat. Kan semua akan terbuka," ujar dia.

Ia menegaskan bahwa penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan utama Danantara dalam menentukan investasi di sektor industri padat karya.

"Karena itu Danantara serius akan masuk ke sektor ini," katanya.

Selain tekstil, Danantara juga menyasar industri alas kaki dan elektronik yang dinilai berpotensi membuka banyak lapangan kerja serta memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Dony menjelaskan pengembangan industri tekstil nantinya tidak hanya berfokus pada produksi barang jadi, tetapi juga mencakup penguatan kegiatan industri di sektor hulu dan antara.

"Nanti begitu kita mulai, kita akan masuk itu di tekstil itu tidak hanya di downstream-nya, tapi mulai dari upstream-nya, midstream-nya, sampai downstream-nya," ucap dia.

Ia menilai pengembangan rantai industri secara menyeluruh diperlukan untuk memperkuat kemampuan produksi dalam negeri sekaligus memanfaatkan pasar domestik yang menurutnya memiliki hampir 300 juta penduduk. Meski demikian, Dony belum menetapkan nilai investasi yang akan dialokasikan.

"Jumlahnya berapa, tentu tergantung daripada kebutuhannya nanti dalam kita memulai membangun industri tekstil ini," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji pada 24 Oktober 2026 menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian masih berkoordinasi dengan Danantara mengenai rencana pembentukan BUMN tekstil, termasuk kemungkinan pengambilalihan perusahaan yang sudah tidak berproduksi.

Sarmuji menekankan bahwa pengembangan industri tersebut perlu disertai modernisasi mesin dan penerapan teknologi produksi terbaru agar perusahaan mampu meningkatkan produktivitas serta bersaing di pasar global.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, jumlah tenaga kerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) ditargetkan meningkat dari 3,95 juta orang pada 2026 menjadi 4,07 juta orang pada 2029, atau bertambah sekitar 120 ribu orang.

Kementerian Perindustrian juga mencatat industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sedangkan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 11,30 persen pada periode yang sama.

Selain itu, nilai ekspor industri tekstil dan pakaian jadi sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 7,18 miliar dolar AS atau sekitar Rp129,74 triliun.