"Jadi itu yang akan kita prioritaskan," ujarnya pula.
Untuk merealisasikan pengembangan tersebut, Danantara akan mengutamakan penguatan industri yang sudah ada, termasuk BUMN, serta membuka kerja sama dengan perusahaan lain apabila kemampuan industri dalam negeri belum mencukupi.
"Dan kalaupun memang tidak ada yang existing, maka Danantara juga siap membangun industri baru bersama mitra-mitra strategis kita," kata Sigit.
Pada sektor energi, portofolio Danantara mencakup dukungan terhadap program pengembangan tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangkit listrik tenaga nuklir, kilang minyak, dan penguatan rantai nilai baterai kendaraan listrik.
Sedangkan pada sektor infrastruktur digital, Danantara memaparkan pengembangan kecerdasan buatan (AI) nasional, komputasi awan berdaulat (sovereign cloud), rencana pusat data berkapasitas daya 1 GW, serta teknologi blockchain.
Sigit juga menyebut rencana pengembangan enam bidang semikonduktor di Indonesia, salah satunya mencakup cip pengendali dan cip untuk pusat data.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri dalam memproduksi perangkat teknologi, bukan hanya menyediakan infrastruktur
Di bidang pangan dan kesehatan, Danantara menyiapkan pengembangan industri bahan baku farmasi, vaksin, obat-obatan biologis, biosimilar, serta peralatan medis. Sigit menyebut hampir 94 persen kebutuhan bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor.