Adapun pada sektor material maju, portofolio proyek mencakup pengolahan unsur tanah jarang, tembaga, aluminium, baja tahan karat, serta pengembangan produk logam bernilai tambah untuk kebutuhan industri manufaktur.

"Lima ini cukup besar sebenarnya. Saya kira kalau kita 20-30 miliar dolar AS itu mungkin within the reach, tapi kami kira bisa lebih tinggi lagi dari itu," kata dia.

Sigit menilai pengembangan industri nasional perlu bergerak melampaui kegiatan ekstraksi sumber daya alam dan perakitan produk, menuju penguasaan teknologi, desain, penelitian, dan pengembangan serta kemampuan menghasilkan komponen industri.

Selain portofolio proyek tersebut, ia memaparkan rencana pengembangan 10 kota pintar (smart cities) bersama Danantara Asset Management serta koridor teknologi yang mencakup industri semikonduktor, kendaraan listrik, pertahanan, dan elektronika.

Danantara juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian, baik dari dalam maupun luar negeri, guna memperkuat penguasaan teknologi dan mendukung pelaksanaan proyek industri.

"Kita tidak hanya akan berhenti pada MoU atau NDA," kata Sigit pula.

Sebagai konteks penguatan industrialisasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 11,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 31,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional sebesar Rp1.539,2 triliun.

Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional pada Januari-September 2026 telah mencapai 75,4 persen dari target tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak sekitar 2,19 juta orang.