"Dari off-taker ada PLN, terus kemudian nanti PLN juga bisa yang nanti mendistribusikan. Tentunya nanti kita juga bisa koordinasi dengan BRIN atau instansi terkait yang memang bidang ini. Jadi kami bisa dari sisi nanti orkestrasi keseluruhan dan juga nanti ke depannya pembiayaan dan juga kemitraan (partnership)," kata Ardy.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa PLTN juga menjadi salah satu cantolan untuk teknologi-teknologi turunan, karena banyak industri yang juga terkait dengan teknologi nuklir seperti industri kesehatan (medical).
"Jadi bukan hanya terkait dengan listriknya, tapi transfer teknologi dan industri yang berkembang karena penguasaan teknologi nuklir itu sendiri," ujarnya.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menyebut energi nuklir berpotensi menjadi "kuda hitam" dalam mempercepat proses dekarbonisasi dan pencapaian target netralitas karbon di Indonesia.
Program pengembangan energi nuklir menjadi semakin relevan lantaran Indonesia membutuhkan sumber energi yang mampu memenuhi permintaan energi industri dan masyarakat sekaligus mendukung upaya mengurangi emisi karbon.