Sripeni mengatakan, sejumlah negara di kawasan ASEAN telah menempatkan nuklir sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang. Malaysia dan Filipina dikabarkan mulai masuk ke proyek energi nuklir pada 2031, sementara Vietnam memiliki target pada rentang 2031 hingga 2035.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal kuat dalam pengembangan teknologi nuklir untuk energi, baik dari sisi sumber daya manusia dan fasilitas penelitian.
Indonesia punya program pendidikan nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), sementara fasilitas reaktor nuklir di Serpong, Banten, memiliki kapasitas sekitar 30 megawatt untuk kepentingan penelitian.
Lebih lanjut dia menyampaikan, program pengembangan nuklir saat ini sudah memiliki arah yang konkret melalui identifikasi lokasi dan masuknya rencana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN periode tahun 2025 hingga 2034.