NADIKABAR.COM — Perempuan penenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini bisa memperoleh penghasilan minimal sekitar Rp 750.000 per lembar kain setelah memperhitungkan modal kain. Sebelumnya, sebagian penenun hanya menerima upah sekitar Rp 25.000 per lembar.

Perubahan ini didukung program Galeri Mina Tenun yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL). Program tersebut membantu penenun mendapatkan bahan baku, mengembangkan motif, menyediakan alat tenun gedogan, serta memasarkan hasil produksi.

Sebelumnya, penenun menghadapi keterbatasan modal dan bergantung pada pengepul untuk menjual kain. Pembayaran juga bergantung pada waktu produk terjual, sehingga mereka harus menunggu untuk mendapatkan uang yang akan digunakan membeli bahan baku berikutnya.

Melalui Galeri Mina Tenun, penenun bisa menerima pembayaran setelah kain selesai diproduksi tanpa harus menunggu produk terjual kepada konsumen akhir.