NADIKABAR.COM — Ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai seberapa banyak hasil panen yang dihasilkan petani. Di balik setiap produksi pertanian terdapat rantai panjang yang menentukan keberhasilan panen, salah satunya ketersediaan pupuk yang terjangkau dan mudah diakses.

Dalam konteks tersebut, industri pupuk memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pupuk menjadi salah satu input penting untuk membantu menjaga produktivitas tanaman sekaligus memastikan petani dapat memenuhi kebutuhan produksi.

Peran tersebut menjadi semakin penting ketika pemerintah tengah mendorong swasembada pangan. Ketersediaan pupuk tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan industri, tetapi berhubungan langsung dengan aktivitas petani di lapangan.

PT Pupuk Indonesia (Persero) menjadi salah satu perusahaan yang memiliki peran penting dalam rantai tersebut. Selain menjaga kapasitas produksi, perusahaan juga melakukan transformasi untuk memastikan pupuk dapat tersedia dan lebih mudah diakses oleh petani.

Pupuk yang diproduksi di pabrik pada akhirnya harus sampai ke lahan pertanian. Karena itu, keberhasilan industri pupuk tidak hanya diukur dari kapasitas produksi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kelancaran distribusi.

Pupuk Indonesia mencatat sepanjang 2025 telah menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi. Jumlah tersebut meningkat 10,68% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan penyaluran tersebut didukung implementasi sistem i-Pubers yang mempercepat dan mempermudah proses penebusan pupuk bersubsidi.

Selain itu, penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 turut menyederhanakan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi sehingga proses distribusi diharapkan menjadi lebih cepat, mudah dan tepat sasaran.

Hingga 1 September 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan pupuk bersubsidi sebanyak 6,33 juta ton atau 64,3% dari alokasi 9,8 juta ton yang ditetapkan Pemerintah. Angka tersebut menggambarkan besarnya skala distribusi pupuk yang harus dikelola agar kebutuhan petani dapat terpenuhi.

Harga Pupuk Turun, Akses Petani Diperkuat

Selain memastikan ketersediaan, harga juga menjadi faktor penting bagi petani. Biaya pupuk merupakan salah satu komponen dalam biaya produksi pertanian sehingga perubahan harga dapat memengaruhi kemampuan petani dalam mengelola lahan.

Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan pemerintah berhasil menurunkan harga pupuk hingga 20%. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan yang pertama kali terjadi dalam sejarah.

"Pertama kali harga pupuk dapat kita turunkan kepada rakyat," kata Prabowo dalam pidato Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026).

Menurut Prabowo, penurunan harga tersebut juga diikuti dengan peningkatan volume ketersediaan pupuk bagi masyarakat.