Setelah lomba selesai, mereka mengadakan makan malam bersama, mengunjungi pasar malam, hingga merayakan hasil latihan berbulan-bulan yang akhirnya terbayar di garis finis.

Bagi banyak peserta, satu kota biasanya tidak pernah cukup. Setelah menaklukkan satu race, mereka mulai melirik kota berikutnya. Alan sudah merencanakan Hyrox di Paris dan Swiss, sementara Amelia kembali mendaftar untuk berlomba di Seoul pada November mendatang.

Peserta asal Singapura, Angus Tan, melihat fenomena itu semakin jelas dari tahun ke tahun. Menurut dia, kini muncul budaya baru di kalangan peserta Hyrox, yaitu mengoleksi patch atau emblem dari berbagai kota tempat mereka berlomba.

"Ada budaya mengoleksi patch Hyroxdari berbagai kota. Orang-orang memasangnya di tas seperti peta tempat-tempat yang pernah mereka datangi untuk berlomba," kata Angus.

Menariknya lagi Hyrox memiliki puncak acara, yakni di Hyrox World Championships. Ajang itu mempertemukan atlet elite dan peserta terbaik dari berbagai negara yang lolos melalui seri-seri Hyrox sepanjang musim.

Kejuaraan dunia itu digelar di kota yang berbeda setiap tahun dan menjadi target utama banyak peserta Hyrox, layaknya World Marathon Majors WMM) bagi pelari marathon. Pada 2026, Hyrox World Championships berlangsung di Stockholm, Swedia, dan diikuti ribuan atlet dari berbagai belahan dunia.

Di saat bersamaan pelari marathon tetap dengan misi mengejar WMM, yang daftarnya makin panjang. Ya, WMM tidak lagi hanya digeber di enam kota tapi bertambah panjang. Enam kota utama yakni Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago, New York, Sydney, ditambah Sydney dan Cape Town.