Beberapa narasumber menyebutkan para peretas yang saat ini diduga berbasis di luar negeri menggunakan perangkat kecerdasan buatan (AI) yang canggih dalam serangan tersebut.
Para ahli berpendapat bahwa Bank Shinhan tampaknya tidak menjadi target khusus, melainkan kemungkinan besar menjadi korban serangan acak berbasis AI yang menyasar platform daring rentan.
Hal itu menekankan perlunya lembaga keuangan lain untuk tetap waspada dan memblokir upaya akses yang tidak wajar.
"Seluruh industri keuangan rentan terhadap serangan yang dibantu oleh perangkat AI. Lembaga keuangan perlu secepatnya melakukan pemeriksaan keamanan secara mandiri untuk mengatasi potensi kerentanan," kata seorang pejabat industri.