Dengan mencit korban, tim mahasiswa mengamati secara langsung bagaimana stres sosial kronis dapat memengaruhi otak. Mereka juga menguji apakah pemberian ekstrak daun kelor secara oral, baik sebelum, selama, maupun setelah induksi stres mampu memberikan efek perlindungan terhadap kerusakan tersebut.
Tim memilih daun kelor karena mudah ditemukan, relatif murah, dan dikenal luas oleh masyarakat. Selain itu, daun kelor punya kandungan bioaktif bernama kuersetin yang berperan sebagai antioksidan untuk menetralkan stres oksidatif.
Untuk mengukur bagaimana kerusakan neuron akibat stres kronis, tim memperhatikan kadar malondialdehida (MDA). Hasilnya, efektivitas daun kelor dapat dilihat melalui kadar MDA, histopatologi neuron hipokampus, serta pemulihan fungsi memori spasial.
Tak hanya itu, studi juga menghasilkan data yang komprehensif, mulai dari karakteristik ekstrak hingga gambaran neurodegenerasi dan stres oksifatif. Salah satu anggota tim, Syakira berharap penelitian ini bisa bermanfaat, terutama dalam mengembangkan salah satu alternatif meredakan stres berbasis bahan alam.
"Kami berharap penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan solusi berbasis bahan alam yang terjangkau untuk mendukung kesehatan mental generasi muda," kata Syakira.