NADIKABAR.COM — PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menyebutkan rantai pasok yang tangguh dibutuhkan untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis.

"Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup. Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta," ujar Managing Director Development Investment DDMF M Rachmat Kaimuddin, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Hal ini didukung data Kementerian Perindustrian yang menunjukkan besarnya ruang penciptaan nilai tambah dalam sektor industri nasional.

Bijih nikel yang nilainya berkisar 30 dolar AS per ton dapat meningkat menjadi 3.628 dolar AS per ton ketika diolah menjadi mixed hydroxide precipitate sebagai bahan baku baterai atau sekitar 120 kali lipat.

Pada tahapan produk baterai tertentu, nilai tambahnya bahkan dapat mencapai 642 kali lipat. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026.

Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan dengan nilai ekspor hilirisasi pada 2024 yang sebesar 34,5 miliar dolar AS.