Pemuda asal Kabupaten Tanah Laut itu menemukan sejumlah penyebab anak-anak adat di Kalimantan Selatan buta huruf. Penyebabnya dimulai dari kurikulum yang tidak sesuai dengan konteks masyarakat adat, kualitas sumber daya manusia yang belum memadai hingga fasilitas pendidikan yang sulit diakses.

Kondisi tersebut turut memperparah kerentanan di wilayah pedesaan, di mana sejumlah warga lanjut usia bahkan pernah tertipu menandatangani surat pelepasan tanah leluhur kepada perusahaan swasta karena tidak bisa membaca.

Karena masalah tersebut, Alvian menggagas Literasi Anak Banua yang kini telah menjangkau 40 desa terpencil di 5 kabupaten di Kalimantan Selatan. Saat ini, Literasi Anak Banua digerakkan oleh 72 relawan, 24 anggota tetap dan 18 tim digital.

Literasi Anak Banua menjalankan beragam program, mulai dari bimbingan belajar gratis dengan kurikulum literasi dan numerasi, pendidikan iklim hingga pembangunan perpustakaan mini. Selain fokus pada anak-anak, Literasi Anak Banua juga memberdayakan pemuda adat menjadi agen perubahan melalui berbagai proyek hulu-hilir.

Visinya adalah memberdayakan anak dan pemuda adat melalui pendekatan pendidikan. Sedangkan misinya adalah memperluas akses pendidikan, memberdayakan keterampilan pemuda adat serta membuka jembatan kolaborasi bagi anak muda Indonesia untuk berkontribusi.