NADIKABAR.COM — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bali mencari solusi strategis untuk mengatasi fenomena tingginya minat masyarakat terhadap kain tenun yang tidak sebanding dengan jumlah perajin yang semakin menipis.

"Orang mengelu-elukan endek (tenun Bali), tetapi para penenun sampai menyarankan saya untuk buat sekolah tenun, saking tidak maunya anak-anak muda menenun," kata Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster di Kabupaten Badung, Jumat.

Sebagai upaya penyelesaian, pihaknya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem kerajinan dari hulu ke hilir agar warisan leluhur tetap lestari.

"Jadi, ketika di hilirnya terangkat, di hulu dan di tengahnya harus dijaga, jangan sampai keluar dari koridor sehingga kita bisa kehilangan warisan leluhur kita," ucapnya.

Tantangan semakin berat karena Bali kini menghadapi ancaman hilangnya tenaga kerja lokal akibat banyak pemesan yang mengalihkan produksi kain ke luar daerah.

Dekranasda bersama Pemprov Bali mengetahui bahwa banyak pedagang endek di Bali sudah hampir 25 tahun memesan karyanya di Troso, Jawa Tengah, sehingga proses pembuatan sudah diambil alih mereka.

Putri Koster menyampaikan dampak dari fenomena tersebut membuat anak-anak muda di tingkat akar rumput tidak mau meneruskan profesi orang tua mereka karena melihat realitas kehidupan perajin yang kurang sejahtera.