"Tidur dan recovery itu sangat penting. Akses ke gym, sarapan yang baik, dan hotel yang lokasinya tidak lebih dari 15-20 menit dari venue benar-benar membuat perbedaan," ujar Nadine yang juga tengah mempersiapkan diri menuju Hyrox World Championships.
Meski demikian, tidak semua peserta memilih hotel yang dekat dengan arena lomba. Atlet Hyrox asal Hong Kong, Keikei Yip, justru lebih suka menginap di area pusat kota agar lebih mudah menjelajahi destinasi yang dikunjungi. Dia tetap mencari hotel yang memiliki treadmill atau akses ke jalur lari luar ruangan.
Sementara itu, chef sekaligus peserta Hyrox Andres Becerra memiliki prioritas lain. Selain memperhatikan kebutuhan pemulihan tubuh, dia juga memilih hotel berdasarkan akses menuju kawasan kuliner.
"Recovery dan nutrisi sama pentingnya dengan latihan. Setelah lomba, saya suka menjelajahi restoran dan bar lokal. Sebagai chef, itu bagian yang sangat saya nikmati dari perjalanan ini," kata dia.
Perubahan kebutuhan wisatawan olahraga itu membuat banyak hotel mulai beradaptasi. Dikutip dari Athletech News, saat London Marathon 2026, sejumlah hotel menawarkan paket khusus pelari berupa menu pasta sebelum lomba, late check-out, fasilitas sport massage, hingga kudapan dan minuman elektrolit di kamar.
Fenomena serupa juga mulai terlihat di Asia seiring berkembangnya Hyrox sebagai ajang yang menarik peserta lintas negara. Hyatt bahkan menjalin kerja sama resmi dengan Hyrox sebagai Official Regional Hotel Partner di Asia Pasifik.