"Maksudnya aku merasa sebagai seseorang yang sangat amat tidak experienced dan sangat amat tidak punya passion. Aku memang nggak punya passion buat masak," ujarnya.

Denada mengatakan dirinya pernah berusaha belajar memasak ketika tinggal di Singapura. Saat itu, ia dan asistennya, Mas Romi, sama-sama tidak bisa memasak sehingga mau tak mau harus belajar.

"Dulu waktu aku di Singapura kan aku sama Mas Romi berdua ya, selama di Singapura itu kita berdua sama-sama nggak bisa masak, dan kita berupaya untuk bisa masak karena memang harus bisa masak. Akhirnya kita jadi ngerti masak, tapi akhirnya nyerah aku," tuturnya.

Setelah merasa tak terlalu cocok dengan urusan dapur, Denada dan Mas Romi akhirnya membagi tugas. Mas Romi lebih banyak menangani urusan memasak, sementara Denada memilih mengerjakan pekerjaan lainnya.

"Jadi aku bilang sama dia, yaudah kita bagi tugas aja ya. Udah Mas Romi yang masak, ngerjain yang lain deh, aku yang bagian beres-beres atau segala, cuci bersih aku deh, aku bilang gitu. Jadi kalau sekarang ya kayak begitu," beber Denada.

Denada juga menanggapi berbagai komentar warganet mengenai caranya memotong bahan makanan hingga masakannya yang terkadang terlalu asin atau pedas. Ia menegaskan sebenarnya bisa memotong cabai, hanya saja tidak bisa melakukannya dengan luwes seperti orang yang sudah terbiasa memasak.

"Bisa! Aku bisa motong cabe. Cuma jangan harapin aku motong cabe seluwes itu, karena memang aku nggak bisa. Boleh dong, maksudnya kita kan... ya aku emang begitu," kata Denada.

Menurutnya, yang terpenting adalah bisa menikmati proses memasak tersebut. Soal hasil masakan yang terkadang kurang pas, ia memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkannya.

"Yang penting kan enak. Yang penting hasilnya enak. Ya walaupun kadang enak, kadang keasinan, kadang kepedesan, kadang hambar. Tapi ya nggak papa, aku nikmatin aja, cara aku untuk menikmati waktu," lanjutnya.