Pakar Vulkanologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Eng Ir Mirzam Abdurrachman, ST, MT, turut memberikan penjelasan ilmiah terkait dentuman. Ia menyoroti sebuah fenomena atmosfer yang disebut sebagai acoustic shadow zone atau zona bayangan suara.
"Ada satu fenomena atmosfer yang menarik untuk kita lihat: acoustic shadow zone atau 'zona bayangan suara'," ujar Mirzam dikutip dari laman ITB, Minggu (6/9/2026).
Apa itu acoustic shadow zone? Mirzam menjelaskan bahwa suara tidak selalu merambat lurus dari sumber ke pendengar. Jalur rambat gelombang suara sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, seperti perubahan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu.
"Perubahan temperatur, serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu, misalnya, dapat memengaruhi kecepatan rambat suara. Kondisi tersebut dapat membuat gelombang suara mengalami pembiasan atau dibelokkan ke atas (upward refraction)," tuturnya.
Proses inilah yang menciptakan acoustic shadow zone. Sederhananya, ada wilayah yang secara geografis dekat dengan sumber suara (misalnya Banten atau Lampung).
Namun, gelombang suaranya tidak langsung mencapai permukaan di wilayah tersebut. Akibatnya, suara terdengar lemah atau bahkan tidak terdengar sama sekali di lokasi yang dekat.