"Mediasi kekeluargaan sebenarnya sudah pernah diupayakan, tetapi pihak pesantren tidak hadir," jelas Minar.

Minar menambahkan, pihak SPIDI sudah beberapa kali meminta massa ponpes meninggalkan kawasan sekolah dan mendorong kasus sengketa lahan ditempuh lewat jalur hukum. Kendati begitu, kubu pesantren dinilai mengabaikan saran tersebut.

"Pihak SPIDI sudah menyatakan, kalau ingin menyelesaikan masalah ini, ayo kita selesaikan secara hukum. Tapi sampai sekarang mereka masih ada di lingkungan sekolah," imbuh Minar.

Kisruh sengketa lahan yang memicu bentrokan turut berdampak pada Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ) yang berada satu lingkungan dengan SPIDI Maros. Asosiasi orang tua alias Parents Association SADIQ pun mengkoordinasikan perkara ini ke Polres Maros pada Kamis (10/9).

"Hari ini kami juga telah mendatangi Mapolres Maros untuk meminta kepada aparat untuk memberikan pengamanan di sekolah tersebut," kata Ketua Parents Association SADIQ Suhartina Bohari kepada wartawan.

Suhartina menuturkan, adanya upaya paksa menduduki lahan kawasan sekolah berisiko terhadap aktivitas belajar mengajar. Apalagi aksi menerobos lahan disebut sudah kerap terjadi hingga berujung perusakan fasilitas.

"Kami mengecam keras segala tindakan yang membahayakan keselamatan anak, termasuk pengarahan massa, perusakan fasilitas, tim redaksi lain CCTV, dan pemblokiran akses antar-jemput siswa di lingkungan sekolah," ujarnya.

"Kami menegaskan bahwa keselamatan dan hak anak untuk belajar adalah prioritas tertinggi yang tidak boleh dikorbankan oleh konflik pihak manapun," tegas Suhartina.

Parents Association SADIQ berupaya bersikap netral di kasus sengketa lahan yang memicu kisruh tim redaksi kubu SPIDI dan Pesantren Darul Istiqamah. Kendati begitu, Suhartina menegaskan, keamanan siswa harus menjadi prioritas.

"Kami mendukung langkah sekolah maupun pihak-pihak lain yang terlibat untuk menempuh jalur hukum yang sah, serta siap memberikan keterangan sebagai saksi mengenai keadaan anak-anak yang terpapar bahaya," beber Suhartina.

Dia berharap kedua belah pihak saling menahan diri demi keberlangsungan pendidikan siswa. Suhartina juga meminta Pemkab Maros turun tangan memberikan atensi dan perlindungan bagi siswa terdampak.

"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, menghentikan segala tindakan kekerasan, dan mengembalikan lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman bagi anak," pungkas Suhartina.