Hingga kini, penyebab pasti dermatitis seboroik belum diketahui secara menyeluruh. Namun, kondisi ini berkaitan dengan beberapa faktor, salah satunya keberadaan jamur Malassezia yang secara alami hidup di permukaan kulit.
Jamur tersebut dapat memicu reaksi peradangan pada orang yang rentan sehingga menyebabkan kulit kemerahan, gatal, dan bersisik.
Selain itu, produksi minyak atau sebum berlebih juga diduga berperan dalam munculnya dermatitis seboroik.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko atau memperburuk kondisi ini, antara lain:
Stres: Tekanan psikologis dapat memicu atau memperburuk gejala.
Perubahan cuaca: Udara dingin dan kering dapat membuat gejala lebih mudah kambuh.
Faktor genetik: Riwayat keluarga dengan gangguan kulit tertentu dapat meningkatkan risiko.
Sistem kekebalan tubuh melemah: Orang dengan kondisi imun tertentu lebih rentan mengalami dermatitis seboroik.
Kondisi kesehatan tertentu: Gangguan saraf seperti penyakit Parkinson juga berkaitan dengan peningkatan risiko.
Dermatitis seboroik memang dapat kambuh, tetapi gejalanya bisa dikendalikan melalui perawatan yang tepat. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
Menggunakan sampo antiketombe khusus
Sampo dengan kandungan ketoconazole, selenium sulfide, atau asam salisilat dapat membantu mengurangi pertumbuhan jamur, minyak, dan penumpukan sel kulit mati.