NADIKABAR.COM — Kulit kepala terasa gatal, kemerahan, dan dipenuhi serpihan kulit putih atau kekuningan yang sulit hilang? Kondisi tersebut tidak selalu disebabkan oleh ketombe biasa. Bisa jadi, Anda mengalami dermatitis seboroik.

Dermatitis seboroik merupakan gangguan kulit kronis yang menyebabkan peradangan, kulit bersisik, dan terkadang terasa sangat gatal. Kondisi ini paling sering muncul di kulit kepala, tetapi juga bisa menyerang area wajah, telinga, dada, hingga punggung.

Meski tidak menular dan umumnya tidak membahayakan kesehatan, dermatitis seboroik dapat mengganggu kenyamanan serta penampilan. Gejalanya juga bisa muncul berulang meskipun sudah sempat membaik.

Lantas, apa saja gejala, penyebab, dan cara mengatasi dermatitis seboroik?

Gejala dermatitis seboroik dapat berbeda pada setiap orang, tergantung bagian tubuh yang terdampak dan tingkat keparahannya.

Beberapa tanda yang paling umum meliputi:

Kulit kepala kemerahan dan terasa gatal.

Muncul serpihan kulit berwarna putih atau kekuningan.

Kulit mengelupas dan membentuk kerak berminyak.

Ketombe membandel yang sulit diatasi dengan sampo biasa.

Muncul bercak bersisik di sekitar alis, hidung, telinga, dan dada.

Pada kondisi tertentu, kulit bisa terlihat sangat kering meskipun sebenarnya memiliki produksi minyak berlebih.

Hingga kini, penyebab pasti dermatitis seboroik belum diketahui secara menyeluruh. Namun, kondisi ini berkaitan dengan beberapa faktor, salah satunya keberadaan jamur Malassezia yang secara alami hidup di permukaan kulit.

Jamur tersebut dapat memicu reaksi peradangan pada orang yang rentan sehingga menyebabkan kulit kemerahan, gatal, dan bersisik.

Selain itu, produksi minyak atau sebum berlebih juga diduga berperan dalam munculnya dermatitis seboroik.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko atau memperburuk kondisi ini, antara lain:

Stres: Tekanan psikologis dapat memicu atau memperburuk gejala.

Perubahan cuaca: Udara dingin dan kering dapat membuat gejala lebih mudah kambuh.

Faktor genetik: Riwayat keluarga dengan gangguan kulit tertentu dapat meningkatkan risiko.

Sistem kekebalan tubuh melemah: Orang dengan kondisi imun tertentu lebih rentan mengalami dermatitis seboroik.

Kondisi kesehatan tertentu: Gangguan saraf seperti penyakit Parkinson juga berkaitan dengan peningkatan risiko.

Dermatitis seboroik memang dapat kambuh, tetapi gejalanya bisa dikendalikan melalui perawatan yang tepat. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

Menggunakan sampo antiketombe khusus

Sampo dengan kandungan ketoconazole, selenium sulfide, atau asam salisilat dapat membantu mengurangi pertumbuhan jamur, minyak, dan penumpukan sel kulit mati.

Gunakan sesuai petunjuk pada kemasan atau anjuran dokter. Beberapa produk perlu didiamkan selama beberapa menit sebelum dibilas agar kandungannya bekerja lebih optimal.

Jika gejala muncul di wajah atau bagian tubuh lainnya, dokter dapat memberikan krim antijamur seperti ketoconazole atau clotrimazole untuk membantu mengendalikan pertumbuhan jamur.

Mengurangi peradangan dan rasa gatal

Pada kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat kortikosteroid topikal untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal. Penggunaannya harus sesuai anjuran karena pemakaian berlebihan, terutama pada wajah, dapat menimbulkan efek samping.

Bersihkan kulit dan rambut secara teratur menggunakan produk yang lembut. Hindari menggaruk bagian yang mengalami peradangan karena dapat menyebabkan luka dan meningkatkan risiko infeksi.

Selain itu, hindari produk perawatan yang mengandung alkohol atau bahan lain yang dapat memicu iritasi.

Apakah dermatitis seboroik bisa sembuh total?

Dermatitis seboroik termasuk gangguan kulit kronis yang dapat mengalami periode membaik dan kambuh kembali. Artinya, gejalanya bisa dikendalikan, tetapi belum tentu hilang secara permanen.

Karena itu, penderita perlu menjaga rutinitas perawatan kulit meskipun gejala sudah mereda.

Jika keluhan semakin parah, muncul luka, terasa nyeri, atau tidak membaik setelah menggunakan produk perawatan, sebaiknya periksakan diri ke dokter spesialis kulit.

Mengenali gejala sejak awal dan mendapatkan penanganan yang sesuai dapat membantu mengurangi kekambuhan serta menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.