Tolib memastikan rekening tersebut bukan untuk kepentingan pribadi. Pengelolaannya dilakukan bersama pemerintah dusun dan desa.

"Itu dilakukan satu pintu, dikoordinir oleh desa dan dusun," imbuhnya.

Ia juga menegaskan pemasangan spanduk donasi bukan untuk menjadikan Desa Sade sebagai destinasi wisata bencana. Warga siap mencopot spanduk tersebut jika memang tidak diperbolehkan.

"Kalau ada kekhawatiran dari elemen yang ada kami akan copot. Tapi karena ibu Menteri dateng, sehingga kami memasang bahwa kami memiliki gambaran sebelum kampung ini terbakar. Walaupun sudah datang sebelumnya," pungkasnya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rembitan, Sanah Ardinata, mengatakan sebelum kebakaran kunjungan turis asing ke Desa Adat Sade bisa mencapai 250 orang per hari. Kini suasana kampung jauh berbeda.

"Kita tidak pernah menyangka hari ini akan sepi. Tinggal abu dari alang-alang dan kayu," kata Sanah, Sabtu malam (22/8/2026).

Sanah mengenang kebakaran yang meludeskan 75 rumah warga. Api disebut begitu cepat membesar dan melahap rumah-rumah warga dalam waktu sekitar 40 menit.

"Lari-lari. Api sudah mulai membakar semua," kata Sanah menirukan suara warga saat kejadian.

Kebakaran tak hanya menghanguskan rumah warga. Ikon pohon cinta yang berada di tengah permukiman juga berubah menjadi arang.