"Sebelum terbakar, kunjungan turis asing (bule) bisa mencapai 250 orang per hari. Sekarang lihat sendiri," tuturnya.

Sebelum kebakaran, wisatawan bebas datang tanpa batas kuota. Kunjungan bahkan meningkat saat MotoGP atau high season.

"Kalau wisatawan domestik sekitar 500 orang sehari. Bahkan kalau sedang ada event MotoGP atau high season, turis asing yang datang pakai motor sendiri bisa mencapai 300 orang sehari, dan domestik bisa tembus hingga 1.000 kunjungan dalam sehari," kenang Sanah.

Anjloknya kunjungan wisatawan membuat 69 art shop ikut terdampak. Warga yang menggantungkan penghasilan dari penjualan suvenir dan kain tenun kini kehilangan sumber pemasukan.

"Perputaran ekonomi satu art shop itu sebulan lumayan. Ada yang bisa dapat keuntungan bersih Rp 1 juta per hari, walau ada juga yang dapat Rp100 ribu per hari, memang tidak merata. Tapi kalau diambil rata-rata keuntungan bersih sekitar Rp 250 ribu per hari dari 69 art shop yang ada," jelasnya.

Para pemandu wisata lokal juga ikut kehilangan penghasilan. Selama ini, mereka tidak menetapkan tarif resmi dan mengandalkan tips dari wisatawan.

"Untuk pemandu lokal yang memandu turis asing, rata-rata bisa membawa pulang tips hingga Rp 500 ribu sehari," tambah Sanah.

Memasuki hari kelima pascakebakaran, warga Sade masih menghadapi kerugian materiil dan ancaman kehilangan mata pencaharian.

"Kami hanya bisa berharap bantuan dan langkah pemulihan agara geliat ekonomi warga dapat segera bangkit," tandasnya.