NADIKABAR.COM — Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tengah mengubah lanskap desain otomotif, meski teknologi ini menjadi alat yang sangat membantu para desainer, AI ternyata juga menghadirkan sejumlah risiko.

Karl Neuhold, Kepala Desain Eksterior di merek Skoda yang berada di bawah naungan VW Group, mengungkapkan bahwa dirinya terkejut dengan kemampuan AI modern. Namun, ia juga memperingatkan bahwa industri otomotif mungkin akan membutuhkan lebih sedikit desainer pada masa mendatang karena komputer dapat membuat pekerjaan mereka jauh lebih cepat dan efisien.

Neuhold mengakui bahwa dirinya aktif menggunakan perangkat AI generatif dalam proses kerjanya dan sangat terkesan dengan kinerjanya.

“Saya terkejut melihat betapa bagusnya teknologi ini. Saya juga menggunakannya sendiri dan sangat terkejut ketika sebuah sketsa sederhana bisa menghasilkan berbagai versi dalam hitungan detik, dengan hasil yang bahkan tidak bisa saya buat lebih baik melalui proses rendering sendiri,” kata Neuhold, dikutip laman Carscoops, Kamis (15/10) waktu setempat.

Siapa pun yang pernah mencoba perangkat daring seperti Vizcom atau bahkan chatbot AI populer seperti ChatGPT dan Google Gemini pasti memahami maksud desainer Skoda tersebut. Dengan perintah sederhana, sistem AI dapat mengubah sketsa kasar buatan tangan menjadi gambar digital yang sangat rapi, lengkap dengan bayangan, pantulan, dan lingkungan yang terlihat realistis.

Versi AI terdahulu kerap menghasilkan logo dan detail yang keliru. Namun, berbagai masalah tersebut sebagian besar telah diperbaiki melalui pembaruan terbaru.

AI menjadi masa depan dan desainer harus beradaptasi

Neuhold mengakui pentingnya AI dalam desain mobil modern dan menyebut teknologi tersebut sebagai “masa depan”. Menurutnya, para profesional harus terus mengikuti perkembangan terbaru di bidangnya agar tetap mampu bersaing.

Ia mengatakan bahwa bekerja di bidang desain otomotif kini “bukan lagi sekadar membuat sketsa”, tetapi juga mencakup kemampuan memahami dan menggunakan AI.

“Anda tahu, kita bisa bekerja dengan sangat cepat, dan orang-orang bisa mengungkapkan ide mereka dengan lebih cepat dan lebih baik," kata Neuhold mengenai hubungan antara desainer dan AI.

Dalam konteks yang sama, Neuhold memperingatkan bahwa para desainer perlu berhati-hati dalam menentukan strategi untuk menghadapi perkembangan industri ke depan.

Kemampuan perangkat AI juga menimbulkan ancaman nyata terhadap tenaga kerja manusia. Neuhold menjelaskan bahwa studio desain kini membutuhkan lebih sedikit orang untuk menyelesaikan pekerjaan yang sama karena AI membantu mereka bekerja lebih cepat sekaligus memicu kreativitas.

Kondisi tersebut membuat para desainer muda semakin sulit untuk memasuki profesi ini.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, desainer Skoda itu mendorong para talenta muda untuk tetap menunjukkan sketsa buatan tangan ketika melamar pekerjaan baru.

Cara tradisional untuk menyampaikan bentuk dan gagasan melalui sketsa dapat membantu perekrut menilai kemampuan kreatif setiap pelamar dengan lebih baik, sehingga berpotensi meningkatkan peluang mereka mendapatkan pekerjaan.

Neuhold meyakini bahwa kreativitas manusia tetap menjadi bagian penting dalam proses desain mobil, bahkan ketika penggunaan AI semakin meluas.

Desainer VW Group tersebut bukan satu-satunya tokoh yang secara terbuka membahas perkembangan teknologi baru di departemen desain otomotif. Tahun lalu, Gorden Wagener, mantan Kepala Desain Mercedes-Benz, memperingatkan bahwa AI dapat membuat profesi desainer mobil tidak lagi dibutuhkan dalam satu dekade mendatang.

Sementara itu, General Motors telah mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja yang sudah ada. Perusahaan tersebut menggunakan perangkat khusus untuk mengubah sketsa tangan menjadi gambar tiga dimensi (3D) yang terperinci.

GM juga menggunakan terowongan angin virtual berbasis AI yang lebih kompleks untuk mengevaluasi aerodinamika kendaraan secara langsung (real-time). Ford juga telah mengadopsi AI untuk menambahkan warna pada gambar prototipe hitam-putih dari era 1960-an.