NADIKABAR.COM — Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data Badan Pusat Statistik (BPS), Setia Pramana, buka suara terkait metodologi dan tahapan perhitungan pemeringkatan kesejahteraan masyarakat dalam kelompok desil 1 hingga 10 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

ia menegaskan penetapan desil dilakukan untuk menetapkan peringkat (ranking) dari tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini, kesejahteraan masyarakat dilihat berdasarkan data pengeluaran keluarga, bukan pendapatan.

"Secara intuitifnya adalah kita memiliki namanya me-ranking. Ya ini kan ranking ya, kalau kita bicara desil kan ranking ya. Apa yang harus diranking? Harus ada sesuatu yang harus di-ranking," ujarnya dalam acara diskusi 'Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Indonesia' di Politeknik Statistika STIS, Jakarta Timur, Jumat (11/9/2026).

"Salah satunya yang di-ranking adalah pengeluaran. Kenapa tidak pendapatan? Karena kita tidak memiliki data pendapatan, sehingga kita lakukan pengeluaran," jelasnya lagi.

Dalam konteks ini, ia menyebut angka pengeluaran masyarakat memanfaatkan data karakteristik individu, rumah tangga, dan pemukiman hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) sebagai data latih (training data) dalam pemodelan statistik. Dari ini, BPS membangun model persamaan matematik untuk memprediksi nilai pengeluaran keluarga lainnya.