"Dari dulu saya garap tanah di sini gak pernah dengar atau lihat ada yang namanya harta karun tertimbun. Kabar dari mana itu? Wong kita tiap hari di sini nyangkul ya biasa saja," kata Muryati saat ditemui di lokasi.
Alih-alih menemukan barang antik atau pusaka bersejarah, Muryati berseloroh bahwa yang paling sering ditemui di kawasan perbukitan tersebut justru kawanan satwa liar.
"Ada juga monyet, kan memang penghuni asli sini. Tiap ke hutan yang ketemu monyet lagi monyet lagi. Jadi kalau dibilang ada emas atau harta karun, ya gak masuk akal," selorohnya.
Meski demikian, Muryati membenarkan sempat melihat keberadaan orang asing yang datang ke perbukitan tersebut sebelum kabar penggalian ramai diperbincangkan.
"Waktu itu memang ada dua orang yang datang ke atas. Pas ditanya, mereka ngakunya orang dari daerah Cikakak juga, cuma gak jelas tujuannya mau ngapain. Gak lama dari situ baru tahu ada bekas galian," beber Muryati.
Muryati menyayangkan adanya aktivitas penggalian liar di area garapan warga. Menurutnya, tindakan tersebut hanya merusak tanah yang selama ini dikelola warga secara damai.
"Ya kalau bisa mah jangan ada lagi yang aneh-aneh begini, datang terus gali-gali tanah sembarangan. Bikin resah warga penggarap saja, padahal di sini gak ada apa-apa," tegasnya.
Artikel ini telah naik di NadiKabar, bisa dibaca selengkapnya di sini dan di sini.