"Dari hasil otopsi, penyebab kematian adalah kehabisan darah karena luka tusuk pada paru-paru, hati, dan penggantung usus," jelas Dewiana.

Dari hasil penyidikan, aksi tersebut diduga dipicu cekcok tim redaksi tersangka dan korban sehari sebelumnya, Sabtu (12/9) sekitar pukul 08.00 WIB. Kala itu, pelaku sedang mengalihkan aliran air dari saluran irigasi sawah ke arah parit. Tindakan tersebut kemudian dipersoalkan Sadimin karena dianggap mengganggu aliran air menuju sawah miliknya.

"Korban kemudian memarahi tersangka, kemarahan korban tersebut diungkapkan dengan kalimat yang memaki tersangka dan dengan kalimat itulah sehingga tersangka merasa sakit hati dan terbebani pikirannya dan hal itu terus dipikirkan oleh S pada malam harinya sehingga tersangka S tidak bisa tidur, terus kepikiran kalimat yang diucapkan oleh korban," jelasnya.

Keesokan paginya, Satriawan yang sedang duduk melamun di ruang tamu melihat korban berjalan di depan rumahnya. Emosi tersangka kemudian kembali muncul.

"Tersangka mengambil pisau yang disimpan di dalam kamar, kemudian keluar rumah dan menghampiri korban dari arah belakang. Pisau tersebut sebelumnya dibeli secara daring," ucapnya.

Usai menyerang korban, Satriawan kembali ke rumah yang berjarak sekitar 15 meter dari lokasi kejadian. Pisau yang digunakan kemudian ditancapkan di pohon pisang di halaman rumahnya.