Fenomena antrean panjang lantaran ingin mendaftar bimbel menurut Suyanto mencerminkan ketimpangan tim redaksi tingginya permintaan masyarakat dan keterbatasan pelayanan di sekolah. Berbeda dengan sekolah, bimbel umumnya hanya melatih siswa mengerjakan soal demi ujian, tidak membangun pemahaman atau bahkan penerapan nilai karakter.

"Jadi, nilai karakter segala macam mungkin tidak diperhatikan. Makanya tidak baik kalau dipraktikkan di sekolah. Pendidikan komplitnya dengan kurikulum holistik itu ada di sekolah, lalu drill-nya di bimbel ya oke saja bagi anak yang pintar," jelasnya.

Bukan bimbel, hal terpenting dalam proses belajar anak menurut Suyanto adalah peran orang tua. Orang tua perlu mengawal pembelajaran anak di rumah.

Ia memahami banyak orang tua yang kewalahan untuk mengajari materi anak di rumah. Di sisi lain, orang tua disebutnya tidak harus menjadi guru yang mengajari seluruh materi, tetapi mereka bisa menjadi mitra yang mendukung anak.

Sebagai mitra, orang tua bisa mengajak anak berdiskusi, memberikan umpan balik dan motivasi, dan membantu anak menghubungkan apa yang dipelajari dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari.

"Orang tua itu harus hadir ketika siswa pulang. Diperhatikan, diberi motivasi, diarahkan. Penting bagi orang tua untuk memberi feedback dan membisikkan kata-kata yang memotivasi anak," tegasnya.