"Yang penting gini, kita tidak sedang menuju keadaan seperti (krisis) 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus," katanya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6).

Menurut Purbaya, tekanan yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh sejumlah sentimen negatif yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

"Hanya ada sedikit negatif yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar," ujarnya.

Ia meyakini kondisi pelemahan rupiah ini dapat diatasi melalui koordinasi yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia.

"Itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik-baik antara pemerintah, Departemen Keuangan, dengan Bank Indonesia," ujar Purbaya.

Purbaya di kesempatan berbeda juga mengatakan pemerintah akan memastikan kebijakan fiskal berjalan baik dengan kebijakan Bank Indonesia.

"Ke depan kita akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan baik, sehingga pertumbuhan kita akan semakin cepat," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Sabtu ini.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo  menjelaskan kedua institusi saat ini berjalan seirama dalam menghadapi dinamika global. Keduanya juga menyepakati dua langkah dalam penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ujar Perry.