NADIKABAR.COM — Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Indramayu, kesibukan tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pembinaan. Ada tangan-tangan yang mengaduk adonan kue, menyusun sayuran hidroponik, merawat ikan, hingga membudidayakan maggot.

Bagi warga binaan, aktivitas itu bukan sekadar mengisi waktu. Di sana ada keterampilan, penghasilan, sekaligus harapan untuk menatap kehidupan setelah masa pidana berakhir.

Perubahan itu menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang dikembangkan Lapas Indramayu bersama berbagai pihak, salah satunya melalui dukungan CSR Pertamina sejak 2023.

Pelaksana Harian Kepala Sub Seksi (Plh Kasubsi) Kegiatan Kerja Lapas Indramayu, Apudin, mengatakan pembinaan dimulai dari keterampilan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, terutama pengolahan makanan.

"Produk UMKM yang diberikan pelatihan oleh CSR Pertamina dimulai sejak 2023, khususnya dalam hal pengolahan makanan, seperti kue-kue kering dan berbagai olahan kue, termasuk roti," ujar Apudin saat ditemui di Lapas Indramayu, Kamis (3/9/2026).

Dari proses pelatihan tersebut, warga binaan memproduksi sejumlah makanan yang memiliki nilai jual. Mulai dari kue kering, kacang umpet, rempeyek kacang, kue basah, hingga snack box.

Pelan-pelan, produk yang semula hanya dibuat sebagai bagian dari kegiatan pembinaan mulai menemukan jalannya menuju pasar.

Salah satunya melalui pesanan dari instansi. Apudin menyebut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu pernah memesan snack box yang dibuat warga binaan, serta sejumlah instansi lainnya.

Produk kue kering juga dipasarkan melalui kerja sama dengan Teras Balongan. Kanal pemasaran tersebut menjadi jembatan tim redaksi produk yang dibuat di dalam lapas dan konsumen di luar tembok.

Bagi Apudin, pemasaran memiliki arti lebih besar daripada sekadar menjual barang.

Masyarakat, kata dia, perlu melihat bahwa warga binaan bukan hanya orang-orang yang sedang menjalani hukuman. Mereka juga memiliki kemampuan untuk belajar, bekerja, menghasilkan sesuatu, bahkan menciptakan produk yang dapat diterima pasar.

"Kerja sama tersebut membantu memasarkan produk dari lapas sehingga masyarakat Indramayu mengetahui bahwa Lapas Indramayu memiliki produk kue yang dibuat oleh warga binaan," katanya.

Ada proses panjang sebelum sebuah produk layak berada di tangan konsumen.

Warga binaan tidak hanya diajarkan bagaimana mengolah bahan makanan. Mereka juga mendapatkan pendampingan mengenai pengemasan atau packaging agar produk memiliki tampilan yang lebih layak jual dan mampu bersaing dengan produk sejenis di luar lapas.

Aspek keamanan dan legalitas produk juga mulai diperhatikan. Apudin mengatakan sertifikasi halal telah ditempuh. Selanjutnya, pihak lapas tengah berupaya memenuhi aspek nutrisi produk.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembinaan tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Warga binaan juga diperkenalkan dengan tahapan yang lebih dekat dengan dunia usaha: bagaimana menghasilkan produk yang layak, dikemas dengan baik, dan diterima konsumen.

Respons warga binaan pun disebut positif. Ada kebanggaan ketika makanan yang dibuat dengan tangan mereka ternyata dipesan oleh pihak luar.

"Warga binaan sangat senang ketika produk mereka diterima atau dipesan oleh pihak luar, seperti dinas-dinas maupun masyarakat," ujar Apudin.

Bagi mereka, pesanan dari luar mungkin terlihat sederhana. Namun di balik satu kotak makanan yang berpindah tangan, ada pesan penting: hasil kerja mereka masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

Di situlah pembinaan mencoba menyentuh persoalan yang lebih dalam, yakni stigma. Apudin berharap keterampilan yang diperoleh selama berada di lapas dapat menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke masyarakat.

"Selama berada di dalam lapas, mereka tidak hanya diam dan tidak memiliki kegiatan. Kami memberikan pelatihan, keterampilan, dan juga pembinaan mental agar ketika mereka bebas nanti, mereka dapat memproduksi sesuatu yang bisa diterima oleh masyarakat," katanya.

Cerita pemberdayaan warga binaan tidak berhenti pada produk makanan.